Fenomena gerhana matahari total yang terjadi seratus tahun sekali pada 9 Maret 2016, hanya bisa disaksikan 11 provinsi di Indonesia. Meski tidak bisa dilihat secara total, gerhana matahari di wilayah Banyumas, Cilacap, Banjarnegara, Purbalingga dan Kebumen, akan terjadi dalam durasi 2 jam 15 menit.
Analis Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Cilacap, Rendy Krisnawan mengemukakan durasi tersebut dimulai pukul 06.19 WIB dan fase puncak berlangsung sekitar pukul 07.23 WIB dan akan berakhir pada pukul 08.35 WIB.
“Gerhana matahari yang bisa dilihat dari wilayah Yogyakarta, Kebumen, Banyumas, Cilacap dan Banjarnegara sebanyak 85 persen. Artinya, jumlah tersebut yang akan tertutup bayangan bulan,” katanya kepada Purwokertokita.com
Namun, ia meminta warga agar berhati-hati jika ingin menyaksikan gerhana di wilayah tersebut dalam durasi yang lama. Karena itu, ia menyarankan kepada warga yang akan menyaksikan fenomena alam tersebut untuk menggunakan kacamata pelindung.
“Gerhana sebagian justru yang berbahaya bagi kesehatan mata jika dilihat dalam durasi panjang. Sebaliknya, gerhana matahari total tidak berbahaya pada fase puncak, saat matahari tidak terlihat sama sekali,” jelasnya.
Rendy melanjutkan, warga yang berada di wilayah Banyumas dan sekitarnya, kemungkinan besar bisa menyaksikan gerhana matahari total karena secara umum cuaca cerah berawan.
Dari informasi yang dihimpun, gerhana matahari total akan terjadi di 45 kabupaten di 11 provinsi. Sebelas provinsi yang mengalami gerhana matahari total, meliputi Bengkulu, Sumatera Selatan, Jambi, Bangka-Belitung, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, dan Maluku Utara.
peristiwa
Heboh penutupan tempat prostitusi Kalijodo dan rencana pemerintah pusat menutup ratusan lokalisasi di Indonesia kini berimbas ke Banyumas. Salah satu lokasi yang dianggap sebagai tempat bisnis esek-esek kini mulai diusik.
“Gang Sadar itu berbeda dari Doly, Sarkem atau Sunan Kuning,” ujar Penasihat Paguyuban Masyarakat Pariwisata Baturraden, Deskart Jatmiko, beberapa waktu lalu.
Menurut dia, di lokalisasi itu, pengguna jasa pramunikmat bisa melakukan eksekusi di tempat. Namun, di Gang Sadar, ada aturan keras bahwa pengguna jasa itu tak bisa seenaknya melepas syahwatnya. “Mungkin ada dampak negatif, tapi lebih banyak dampak positifnya,” kata dia.
Di Gang Sadar, kata dia, pengunjung tak bisa melakukan transaksi dan eksekusi di tempat itu. Mereka harus melakukannya di penginapan terdekat seperti villa, hotel atau tempat lain yang tersedia.
Amir Pager, Presiden Paguyuban Penghuni Gang Sadar mengatakan, Gang Sadar hanyalah merupakan tempat ngekost para PSK. “Saat ini jumlahnya ada 100 orang,” katanya.
Ia mengatakan, penghuni Gang Sadar dijaga betul kesehatannya. Setiap bulan mereka mendapat pemeriksaan kesehatan untuk antisipasi penyakit seperti HIV/AIDS.
Menurut dia, ada banyak PSK yang memilih untuk tidak ngekost di Gang Sadar. Mereka, kata dia, sulit untuk dipantau kesehatannya karena tidak mendapat pemeriksaan kesehatan rutin.
peristiwa
Langganan:
Postingan (Atom)


Recent Comments